Arsip untuk Juni, 2009|Halaman arsip bulanan
Outsource Mimpi : Sebegitu Pentingnya Visi
Saya bertemu dengan beberapa teman kuliah di satu mall di Jakarta. Kami membicarakan tentang kemungkinan membuat satu usaha ke depan. Saya tersentak dengan pernyataan teman saya saat saya bertanya how to start a business. Dia menjawab bahwa yang paling penting, adalah memiliki visi yang sama!!!!!
Sebegitu pentingny visi dalam organisasi sehingga sebuah client di perusahaan saya berani menggelontorkan bertriliun2 rupiah meminta bantuan pihak ketiga (konsultan) untuk memantapkan visi perusahaannya hingga 5 tahun ke depan. Triliunan rupiah untuk beberapa file ppt dan microsoft word!!!!!!!
Walaupun saya tahu mungkin beberapa orang menolak ide ini, tapi bagi saya visi adalah mimpi. Gambaran seperti apa kita / organisasi di masa depan.
Saya sempat berpikir kalau satu organisasi saja mimpinya harus ”dibuatkan” oleh orang ketiga (konsultan), untuk apa ada pemimpin dan pemilik di organisasi itu?
Sejak orientasi dan latihan kepemimpinan siswa di SMP hingga universitas, selalu saja ditanamkan pada diri saya, definisi seorang pemimpin sebagai orang yang know the way, show the way, and go the way. Know berarti dia tahu apa yang dia mau, baru tunjukkan ke orang lain, dan maju pertama untuk bergerak. Atau bahasa lainnya pemimpin sebagai orang yang memiliki mimpi, dapat men-share mimpinya ke orang banyak, dan membuat orang tergerak mencapai mimpinya itu.
Well, karena jualan saya saat ini masi di ppt dan microsoft word, mungkin ada baiknya juga organisasi2 itu minta bantuan orang ketiga supaya lebih PD dan punya benchmark ke perusahaan – perusahaan besar lain (ahahaha tetep jualan :p).
Yaahhh setidaknya2, malem ini lagi coba ngerancang visi diri sekali lagi tanpa pake ppt ama microsoft word. ohohohohohohohohohohohohonhho
Jakarta, June 27 2009
Take me Out : Nyaman Berpikir Kolot
Tadi malam, seperti biasanya, karena sulit tidur saya membuka – buka stasiun televisi di kamar kos. Saya menemukan satu acara menarik berjudul Take Me Out di Indosiar.
Saya baru pertamakali menyaksikan acara itu dan langsung tertarik saat tiba – tiba 30 wanita cantik datang ke atas panggung pertunjukan (ahahaha you bet :p). Awalnya saya pikir itu acara semacam pemilihan ratu kecantikan atau sejenisnya.
Jadi secara umum, acara ini semacam reality show yang mempertemukan wanita dan pria untuk melakukan dating. Wanita sebanyak 30 orang itu diberikan pilihan pria yang datang satu persatu dengan profil yang ditayangkan di depan para wanita tersebut. Tiap – tiap wanita dapat menentukan pilihan untuk tertarik atau tidak pada pria tersebut dengan menekan tombol lampu di depan mereka. Setelah ‘tersisa’ sedikit wanita yang masih tertarik, giliran si pria yang mengajukan pertanyaan pada wanita – wanita tersebut dan memilih wanita yang menurut si pria paling menarik. Sesi berakhir saat terpilih satu wanita yang ‘beruntung’ yang dapat dating dengan si pria. Selesai terpilih, si pria dan wanita dengan leluasa berangkulan dan berpegangan tangan melakukan dating offline.
Yaaa,,, dengan cukup 3 pertanyaan dan memberikan profil kehidupannya sehari – hari, si pria dapat langsung berangkulan dan mengajak kencan wanita yang baru beberapa menit ditemuinya. Hal yang aneh bagi saya…. Ahahaah mungkin karena saya iri saja, atau pikiran saya yang kolot :p
Saya jadi ingat pernah menonton DVD serial Korea yang mengatakan membangun relationship itu seperti membeli sepatu. Coba liat bentuknya, liat ukurannya, coba dipake, coba dibawa jalan, kalau ga oke, ganti. Mungkin memang begitu yaaa… ahhhhh saya saja yang kolot. Eheheheheh.
Nyaman berpikir kolot :p
Kosan, June 27 2009
Buah – buah Pinang
Saya membaca artikel Kompas hari ini, Sabtu, 27 Juni 2009 dengan judul Buah – buah Pinang karangan Sukardi Rinakit. Judulnya menarik perhatian saya. Maklum, dalam pikiran saya buah pinang terlihat segar kalau dijus. Ahahahhahaa.
Ternyata judul ini berasal dari penggalan lagu Franky Sahilatua. Lagu tentang ironi dari negeri ini. Kita tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tetapi kita miskin dan tetap menjadi penjual buah – buah pinang.
Saya sempat berpikir kenapa Pak Franky menggunakan buah pinang di lagunya? Saya baru sadar kalau buah ini adalah buah tidak terkenal, tidak segar kalau dijus, tidak semenarik jeruk dan semanis durian. Buah ini adalah ironi. Menjadikannya pertanyaan mengapa kita tidak menggunakan potensi terbesar negeri ini untuk kemakmuran bersama?
Well, saya belum mengerti dalam skala Negara, tapi setidaknya kalau saya lihat diri saat ini. Saya sangat yakin potensi kita tidak terbatas, dan kita dihadapi pilihan dalam pemanfaatan potensi kita saat ini. Cukup untuk menjadi penjual buah pinang, emas, atau minyak? Hmmm klo jualan ppt kayak saya masuk hitungan ga ya? :p
NB. Setidaknya masi banyak potensi ppt yang belum digali… Bikin animasi terbang gimana si?????
Tinggalkan sebuah Komentar