Arsip untuk Juli 6th, 2009|Halaman arsip harian
A Matter of Segmentation
Terinspirasi dari proyek yang sedang saya kerjakan mengenai segmentasi customer, saya berpikir untuk mencoba menulis hal tersebut dalam blog ini. Tapi tentu karena level pengetahuan saya tentang segementasi masih sangat minim (iyalah, baca aja bukunya Pak porter kalau mau lengkap :p), saya mencoba melihat masalah segmentasi di kehidupan sehari2 saja. Benar!!!!! Saya baru sadar bahwa segmentasi ini berlaku juga dalam kehidupan kita sehari – hari (sori bagi yang uda pada tau, saya memang telat 1,5 taun semenjak mata kuliah manajemen pemasaran saya tinggalkan, ehehe).
Segmentasi Dalam Politik
Saya dari dahulu pecinta pandangan Marhaenisme. Sejak SD saya mulai mampelajari sistem ini. Bahkan dahulu di pelajaran PPKn SMP, di saat teman – teman saya disuruh mengerjakan paper mengenai kesusilaan, saya secara khusus disuruh memaparkan paper mengenai pandangan Marhaenisme saya (ahahahah sombong mode). Dari preferensi politik saya mengenai marhaenisme ini, seharusnya sudah bisa ditebak pilihan presiden/wapres saya di PEMILU mendatang. Karena target segmen calon presiden/wapres kita terlihat jelas dari program kerja yang mereka usung: Si A buat segmen yang pro rakyat kecil, marhaen – marhaen Indonesia; Si B buat segmen yang bersih anti korupsi dan pro pasar ; Si C buat segmen yang pro kemandirian negeri sendiri. Tapi ternyata saya bukan termasuk pemilih si pengusung marhaenisme….
Dari didikan yang saya dapat sejak bangku sekolah hingga kerja saat ini, yang cendrung pro liberalisme (errrr yang sekolahan Pancasila sih,,,,), posisi segmen saya mulai berubah, saya tidak lagi memprioritaskan paham marhaenisme untuk diterapkan saat ini.
Ini membuat saya mengerti ternyata sesorang sangat mungkin untuk bepindah segmen. Sama seperti segmen customer di client saya yang isinya selalu berubah dinamis saat umur dan profesi customer tersebut berubah.
Hmmm saya tidak bilang saya tidak pro rakyat kecil yaaa, cuma bahasanya ganti jadi pro filantropisme, ahahahaha :p
Segmentasi Dalam Berpacaran
Bagi saya, saat – saat mendekati lawan jenis (pdkt maupun berpacaran) ternyata bisa dilihat sebagai perkara segmentasi. Dari berbagai segmen customer yang ada (cewe2 bagi cowo atau cowo2 bagi cewe,red), dilakukanlah pdkt atau pacaran untuk mendalami segmen si target dan nantinya dapat memutuskan atau diputuskan sebagai target segmen yang sesuai atau tidak. Jadi bila pacaran maupun pdkt tersebut gagal, dengan berbesar hati saya bisa mengatakan, ”ooo ternyata segmennya kurang passss..”
Ahahahahahahaha ngeles tanda ga mampu :p
Kosan minggu malem, sehari setelah US Independence Day 2009,
Best,
Cukup Jadi Diri Sendiri: A Lesson from Project Dinner
“Apa yang menjadi kegemaran kamu?”
Percaya atau tidak ini adalah pertanyaan yang sulit bagi saya. Saya cukup malu untuk mengatakan kalau kegemaran saya adalah hal – hal yang dianggap orang – orang terlalu serius. Saya senang saat membaca perkembangan politik, social, sejarah, mempelajari ideologi dalam ekonomi, manajamen, bisnis, leadership, menggambar muka orang, menulis, mengajar, berpidato (errrr ini konteksnya saya ga nyombong yaaaa :p).
Tapi bagi saya hal – hal tersebut tidak cukup populer. Untuk menutupi itu, biasanya saya menjawab hobi saya dengan kegiatan yang yang saya sukai sekaligus “terlihat” populer seperti berenang, bermain tennis, menonton film. Jurus ini biasa saya pakai dengan harapan percakapan menjadi mengalir dan menarik.
Suatu malam saya melakukan project dinner dengan beberapa rekan saya di project. Dan pertanyaan yang sulit itu muncul dari manager saya dengan bahasanya yang lugas. ”So, Zikril what are your hobbies?” Main aman saya jawab ”I love playing tennis” tanpa menjelaskan hobi saya itu panjang lebar, karena errrrr… saya cuma suka ”bermainnya” saja tanpa mengikuti semua hal di balik tenis. Pertanyaan yang sama ditanyakannya pada tiap – tiap orang dalam tim.
Ada seorang seorang rekan saya menjawab kegemarannya ”farming” (sesuatu yang menurut saya sangat membosankan dan tidak populer). Dia dengan antusiasnya menceritakan kegiatan farmingnya itu secara lengkap, obrolan mengalir dan semakin menarik. Semua orang yang mendengar terlihat begitu terkesima dengan pembicaraannya tentang farming itu.
Dari project dinner itu saya baru menyadari bahwa untuk membuat suatu percakapan menarik kita tidak perlu malu untuk menjadi diri sendiri….
5 Juli 2009, mengedit tulisan yang belum terpublish yang ternyata relevan dan belum dilakuin (hmmmm…. tulisan hobi di facebook aja masi belum jujur) :p
Komentar (5)