A Matter of Segmentation
Terinspirasi dari proyek yang sedang saya kerjakan mengenai segmentasi customer, saya berpikir untuk mencoba menulis hal tersebut dalam blog ini. Tapi tentu karena level pengetahuan saya tentang segementasi masih sangat minim (iyalah, baca aja bukunya Pak porter kalau mau lengkap :p), saya mencoba melihat masalah segmentasi di kehidupan sehari2 saja. Benar!!!!! Saya baru sadar bahwa segmentasi ini berlaku juga dalam kehidupan kita sehari – hari (sori bagi yang uda pada tau, saya memang telat 1,5 taun semenjak mata kuliah manajemen pemasaran saya tinggalkan, ehehe).
Segmentasi Dalam Politik
Saya dari dahulu pecinta pandangan Marhaenisme. Sejak SD saya mulai mampelajari sistem ini. Bahkan dahulu di pelajaran PPKn SMP, di saat teman – teman saya disuruh mengerjakan paper mengenai kesusilaan, saya secara khusus disuruh memaparkan paper mengenai pandangan Marhaenisme saya (ahahahah sombong mode). Dari preferensi politik saya mengenai marhaenisme ini, seharusnya sudah bisa ditebak pilihan presiden/wapres saya di PEMILU mendatang. Karena target segmen calon presiden/wapres kita terlihat jelas dari program kerja yang mereka usung: Si A buat segmen yang pro rakyat kecil, marhaen – marhaen Indonesia; Si B buat segmen yang bersih anti korupsi dan pro pasar ; Si C buat segmen yang pro kemandirian negeri sendiri. Tapi ternyata saya bukan termasuk pemilih si pengusung marhaenisme….
Dari didikan yang saya dapat sejak bangku sekolah hingga kerja saat ini, yang cendrung pro liberalisme (errrr yang sekolahan Pancasila sih,,,,), posisi segmen saya mulai berubah, saya tidak lagi memprioritaskan paham marhaenisme untuk diterapkan saat ini.
Ini membuat saya mengerti ternyata sesorang sangat mungkin untuk bepindah segmen. Sama seperti segmen customer di client saya yang isinya selalu berubah dinamis saat umur dan profesi customer tersebut berubah.
Hmmm saya tidak bilang saya tidak pro rakyat kecil yaaa, cuma bahasanya ganti jadi pro filantropisme, ahahahaha :p
Segmentasi Dalam Berpacaran
Bagi saya, saat – saat mendekati lawan jenis (pdkt maupun berpacaran) ternyata bisa dilihat sebagai perkara segmentasi. Dari berbagai segmen customer yang ada (cewe2 bagi cowo atau cowo2 bagi cewe,red), dilakukanlah pdkt atau pacaran untuk mendalami segmen si target dan nantinya dapat memutuskan atau diputuskan sebagai target segmen yang sesuai atau tidak. Jadi bila pacaran maupun pdkt tersebut gagal, dengan berbesar hati saya bisa mengatakan, ”ooo ternyata segmennya kurang passss..”
Ahahahahahahaha ngeles tanda ga mampu :p
Kosan minggu malem, sehari setelah US Independence Day 2009,
Best,
bagaimana dengan segmentasi dan Peng-identitas-an komoditas, hehe
oo betul2, relationship/politik ga bisa disamain sebagai komoditas transaksi. hmmmmmmmmmm…. ato bisa juga disebut transaksi tapi yang lebih dalam: value , makna, kesetiaan ahahah ngeles…
thank you for your sharing
zik, kenapa pindah jadi pro filantropisme? (believe it or not, this is my first time i heard about that word, i googled it straight away
)
beneer bat salah gw
maksud gw sebaliknya filantropisme yang idenya
“jangan bantu orang miskin, beri kepercayaan dan ajak mereka bekerja sama dalam pembangunan.” (http://sayapimaji.multiply.com/journal/item/105) thnks
weis. zikril. ada segmentasi ttg pacaran. sudah lama tidak pernah mendengarkan poin yg satu ini dari seorang zikril. hehehe. biasanya kalau di ucapan terima kasih, yang diletakkan di akhir itu mengandung makna yang dalam. artinya justru di situ soul dari tulisanmu. ketimbang yang lain. hihihi. just opinion.
cheers,