Krisis Ekonomi ke Private Equity?
Saya teringat pernah membuat janji untuk diskusi bersama tentang kelanjutan dari economic bubble Amerika Saerikat (ekonomi balon yang menggelembung tapi dasarnya bolong). Sekarang teman saya harus mempersiapkan materi untuk keperluan interviewnya dengan sebuah perusahaan private equity. Yang menjadi pertanyaan dan objective dari tulisan ini adalah “so, kenapa kamu memilih perusahaan Private Equity untuk bekerja dalam keadaan krisis ekonomi global seperti ini?”
Heheheeh itu pertanyaan yang menjebak (menurut saya), karena pertanyaannya paling ga bisa di-break down lagi menjadi beberapa bagian :
- krisis ekonomi global itu apa?
- Hubungan krisis ekonomi global sama private equity apa?
Karena atas desakan teman saya itu (sebelum2nya saya yang sering mendesak, ga enak juga sekali – sekali didesak trus jawab ga, heheh) saya coba sharing view saya (dari berbagai artikel: Gie, Arlo, Tempo, dan newsweek) buat jawab pake bahasa yang sederhana (interview kan sejam paling lama, dan ini baru satu pertanyaan dari beberapa pertanyaan, santai dong man!! hehehe).
Krisis Ekonomi Global
Baru – baru ini ada artikel dari Koran Tempo yang menyatakan General Motor mempersiapkan diri untuk menyatakan dirinya default akibat tidak dapat memenuhi kebutuhan likuiditasnya (tambahan dana untuk operasional dan ekspansi). Hal ini disebabkan pihak bank tidak berani mengucurkan pinjaman dengan nilai yang ditawarkan. Pengangguran semakin banyak di AS akibat PHK besar – besaran sector finansial dan mulai merembet ke usaha lain (karena sector finansial selama ini menjadi tulang punggung pendanaan sector usaha), Lehman Brothers (investment Bank terbesar ke-4 saat itu) terpaksa ditutup akibat tidak dapat memenuhi kewajibannya, perusahaan asuransi AIG diambil alih dengan pemberian dana talangan oleh USA, terjadi akuisisi Bear Sterns, Merryl Lynch (wah awalnya saya sempet kepikiran masuk sini nih, heheh) oleh perusahaan investmen bank lain, dll, dst
Itu semua dampak terjadinya krisis ekonomi yang berdampak global sekarang ini, I know itu belum menjawab krisis ekonomi global itu apa. Setidaknya jadi gambaran ricuhnya situasi yang terjadi saat ini. Terus apa yang mendasari, siapa yang terlibat, dan nantinya apa hubungannya dengan perusahaan private equity (yang tugasnya mencari lahan investasi baru, membangun dan meningkatkan perfomansi bisnisnya, lalau menjualnya lagi dengan harapan mendapatkan untung) dengan krisis ekonomi global ini? Setidaknya banyak artikel yang menulis hal ini dan detail tentang tools yang digunakan :swap, hedge, produk2 derivative, dan urusan teknis finansialnya. Tapi buat tulisan ini, sekali lagi karena konteksnya wawancara, saya coba buat dari segi big picture yang terjadi
Dasar terjadi dan Pihak yang terlibat
Diawali dari kebijakan pemerintah AS untuk menyediakan rumah bagi masyarakat – masyarakat miskin dalam bentuk kredit kepemilikan rumah murah, dalam bahasa sana subprime mortgage (Sub artinya di bawah. Prime artinya prima atau bonafid, jadi emang kredit buat kalangan bawah), ditandai dengan suku bunga kepemilikan yang rendah dan kemudahan mendapatkan izin peminjaman uang ke bank hipotik untuk membeli rumah, yang terjadi kemudian adalah lonjakan pembelian.
Dari bank hipotik, kredit ini disecuritization (dikertaskan dalam bentuk surat berharga / produk derivative) ke bank – bank investasi dan para hedge fund (dan biasanya antar bank investasi / hedge fund juga terjadi transaksi yang berantai, lihat gambar). Surat berharga berantai yang ujungnya dalam bentuk surat kredit kepemilikan rumah ini terus dibeli sama investor. Untuk jaga – jaga kalau harga surat berharganya tiba – tiba jatuh, biasanya investor mengasuransikan surat berharganya atau melakukan swap pada perusahaan yang ditunjuk.
Karena jumlah pembelian kredit rumah murah ini terus naik, dan harga rumah semakin naik (ini demand – supply curve) keuntungan semua pihak yang terlibat juga naik (bank hipotik, investment bank, hedge fund, investor) akibatnya developer dituntut pihak – pihak ini menggenjot pembangunan rumah2 murahnya lagi supaya keuntungan semakin naik. Nah yang terjadi orang – orang miskin sangat mudah mendapatkan rumah bahkan punya rumah sampe lebih dari 2 karena mereka berpikir kalau ga bisa bayar, jual aja rumah sebelumnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga pembelian awal (kan harga rumah terus naik à cara demikian biasa disebut refinancing).
Nah problemnya bermula di sector real (bukan yang aliran produk derivative): harga rumah tiba – tiba ga naik (masa saturated), orang – orang banyak kelimpungan bayar cicilan (ada yang ngegantungin pembayaran dari refinancing), akhirnya jual – jual rumah mereka dengan harga murah. Harga rumah jatuh, cicilan rumah ga bisa dibayar, akibatnya berdampak ke pihak – pihak yang terkai tadi : bank hipotik (Bear Sterns harus diakusisi), investment bank (Lehman Brothers tutup, Merryl Lynch diakuisisi JP Morgan), hedge fund, sampe ujungnya ke investor dan perusahaan asuransi (AIG ditalangin pemerintah) yang kena.
Dampak
Secara general dampak yang terjadi adalah :
§ Gagal bayar : ini terjadi dari peminjam uang kredit rumah, bank hipotik, bank investasi, hedge fund, sampe asuransi, akibatnya investor uangnya melayang. Problemnya orang yang investasi di AS itu biasanya pemain global, mereka main juga di Indonesia, dan Negara – Negara lain. Jadi kalu uang mereka di AS melayang, terjadi penarikan uang mereka yang tersimpan di berbagai Negara (biasanya dalam bentuk saham). Ini makanya bursa saham global juga jadi turun.
§ Bank jadi lebih prudent / hati – hati mengucurkan pinjaman (kemaren – kemaren pinjaman yang diberikan gagal bayar), yang terjadi adalah tight money policy, pengetatan uang yang beredar di masyarakat. Salah satu caranya dengan peningkatan suku bunga perbankan. Akibatnya sector real yang banyak pinjaman ke bank, dan ingin minjem uang lagi ke bank kelimpungan karena kesulitan izin dan bunga yang harus dibayarkan terlalu tinggi, jadinya sector real ikut ga bergerak (bahkan seperti tertulis di mukadimah, General Motor mempertimbangkan diri untuk default).
Kenapa Private Equtiy
Nah karena yang kelimpungannya sampe kena sector real, yakni kesulitan dapet tambahan modal untuk melakukan ekspansi dan operasional, maka diperlukan jasa – jasa konsultan untuk memastikan gimana cara tetep survive dengan dana yang ada (oke2 ini buat konsultan, hehehe). Kalo private equity yang kerjanya nyari perusahaan buat diinvest, dibuat maju, terus dijual lagi. Jelas lah ini jadi surga. Saat perusahaan – perusahaan kesulitan modal seperti sekarang, private equity akan menganalisis prospek – prospek mereka ke depannya, menyuntikan dana segar (kalau dinilai berprospek), memberi warna dan startegi baru, dan menjualnya 3-5 tahun setelah dipegang. Jadi kalau gitu pas interview ntar jawabannya bisa tegas. Saat – saat seperti ini adalah saat buat private equity buat bergerak maju dan agresif mencari mangsa (maksud lu?), gain it, hit it !!!
Hahahaha
Sukses Do,
Zikril

