to be number or to be something

Saat ini  kosan saya gelap total. Hal yang tidak pernah saya rasakan selama hampir setahun tinggal di kosan ini. Mati lampu di Jakarta Pusat terjadi sejak pukul 14.00 hingga saya menulis pukul 20.00 saat ini. Entah kenapa saya jadi ingin menulis. Ahhhhhhhhh sudah lama sekali tidak menulis…..

Padahal saya (ngaku2) suka menulis. Untungnya saya mengisi penuh baterai laptop di kantor tadi sehingga kegelapan kosan bisa diterangi warna putih lembar microsoft word ini (yaaa saya biasanya menulis di word baru dimasukkan ke blog, eheheh ga penting yaaaa).

Tadi siang saya bertemu dosen saya di lobi bawah gedung kantor. Ternyata dosen saya itu masih ingat saya padahal saya belum pernah ambil mata kuliah beliau sebelumnya (ahahaha merasa terkenal mode). Setelah basa – basi sebentar, dia berkata ”Sudahlah kamu sekolah lagi saja terus jadi dosen ambil major Public Policy. Kamu tidak terkukung waktu, bekerja untuk diri sendiri, dapat pahala terus menerus dari ilmu yang diajarkan. Ilmu kamu juga akan dicari dan berguna bagi negara dengan menjadi staf ahli negara bahkan menteri”

Ini bukan kali pertama saya diberitahu hal seperti itu. Namun sampai sekarang saya tidak bergeming. Saya memutuskan untuk bekerja sebagai konsultan dan sampai saat ini saya menikmati proses pembelajaran di kantor saya.  Toh  sebagai konsultan saya disini dapat berguna bagi bangsa secara tidak langsung dengan mentransformasi perusahaan Indonesia menjadi perusahaan kelas dunia. Bahkan saya merasa dapat berperan signifikan karena hasil kerja saya langsung dilihat dan dipertimbangakan oleh direksi klien hingga akhirnya diimplementasikan jajaran bawahnya, hal yang sulit saya lakukan kalau bekerja biasa. Apalagi saya dibayar cukup untuk hidup di Ibukota ini.

Kemudian dosen saya itu berkata kembali, ”Corak hidup anak – anak ITB itu bisa dilihat 15 tahun setelah dia lulus kuliah. Setidaknya ada dua corak hidup secara general:

Satu, orang yang hidup ’to be number’, yang hidupnya adem tentrem tanpa masalah uang karena dia bekerja dengan tujuan untuk menghasilkan uang, mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.

Kedua, orang yang hidup ’to be something’ yang mengejar suatu hasil yang dapat berguna bagi orang banyak.

Cara ukurnya untuk menetukan corak hidup itu mudah. Jika kamu meninggal nanti kamu dikenang oleh banyak orang itu artinya kamu hidup ’to be something’, tapi kalau pensiun saja kamu sudah dilupakan, itu artinya kamu hidup ’to be number’ ”

Siul…. jadi susah tidur niiiii….

September 29th 2009

One thought on “to be number or to be something

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s